Peran perempuan dalam bidang sains dan teknologi semakin mendapat perhatian dunia sebagai bagian penting dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Berbagai organisasi internasional, termasuk UNESCO dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menegaskan bahwa kesetaraan gender dalam pendidikan, riset, dan inovasi merupakan fondasi utama dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Laporan UNESCO terbaru menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) terus mengalami peningkatan di berbagai negara. Perempuan kini mulai mengambil peran strategis dalam pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), energi hijau, kesehatan digital, bioteknologi, hingga riset perubahan iklim yang mendukung implementasi SDGs global.
Meski demikian, tantangan kesenjangan gender di bidang sains dan teknologi masih menjadi isu global. Data internasional menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam sektor teknologi tinggi dan kepemimpinan riset masih lebih rendah dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu, berbagai negara mulai memperkuat kebijakan pendidikan inklusif, pemberdayaan perempuan, serta akses terhadap teknologi dan riset ilmiah.
Dalam perkembangan terbaru tahun 2026, sejumlah universitas dan lembaga penelitian dunia mulai mengembangkan program Women in STEM untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam inovasi dan publikasi ilmiah internasional. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah peneliti perempuan, tetapi juga membangun ekosistem riset yang setara, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Perempuan juga dinilai memiliki kontribusi penting dalam pengembangan solusi berbasis komunitas dan keberlanjutan lingkungan. Berbagai inovasi yang dipimpin perempuan pada sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, dan energi terbarukan kini mulai memberikan dampak nyata terhadap masyarakat global, khususnya dalam mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Selain itu, perkembangan teknologi digital dan AI membuka peluang baru bagi perempuan untuk terlibat lebih luas dalam ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy). Pembelajaran daring, laboratorium virtual, serta kolaborasi riset global berbasis teknologi kini semakin memperluas akses perempuan terhadap pendidikan dan inovasi sains.
Para ahli juga menekankan bahwa keberagaman dalam sains dan teknologi mampu meningkatkan kreativitas, kualitas inovasi, dan efektivitas solusi global. Oleh sebab itu, keterlibatan perempuan dalam STEM tidak hanya menjadi isu kesetaraan, tetapi juga bagian penting dalam mempercepat pembangunan berkelanjutan dunia.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap pengembangan sains dan teknologi berkelanjutan, Yayasan Sains Teknologi Berkelanjutan mendukung peningkatan partisipasi perempuan dalam pendidikan, riset, inovasi, dan kolaborasi global untuk menciptakan masa depan yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan menuju SDGs 2030.